Ia bernama Satyadi. Ia sering dipanggil Yadi. Ia adalah seorang siswa kelas 6 SD di Desa Banjar Sari. Ayahnya adalah seorang petani. Ibunya merantau ke luar negeri sebagai TKI. Yadi tidak memiliki saudara, ia adalah anak tunggal.
Di Desa Banjar Sari, Keluarga Yadi merupakan keluarga yang miskin. Penghasilan ayah Yadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah Yadi bekerja di lahan sawah milik orang. Tak Jarang mereka dapat berpuasa setiap hari. Tetangga sekitar mereka sering memberikan bahan makanan kepada mereka seperti beras, ikan asin, minyak goreng dan lain-lain. Bagi Yadi nasi adalah barang berharga yang sulit ia temui. Jadi, ia sangat bersyukur apabila dapat makan selayaknya orang-orang biasa.
Yadi memiliki sifat pendiam. Ia suka menyendiri. Entah apa yang ia pikirkan. Ia tak suka bermain selayak anak-anak seumurannya. Sepulang sekolah ia langsung membantu ayahnya di sawah. Mungkin, itulah sebab mengapa Yadi tak ingin membuang waktu untuk bermain.
Suatu hari, Bu Ida guru Bahasa Indonesia mengajar di kelas Yadi. Sebelum mengajar, Bu Ida bertanya impian atau cita-cita murid-muridnya.
“Anak-anakku, hari ini ibu akan mengajar materi cita-cita. Sebelum itu, ibu mau bertanya kepada kalian. Apa cita-cita kamu?” Seorang anak menunjukkan tangan. “Silahkan Hari” pinta Bu Ida.
“Saya ingin menjadi guru!” jawabnya lugas.
“Saya Bu! Saya pingin jadi bidan!” teriak siti tak mau kalah.
“Saya pingin jadi sekretris desa!” sahut Nur semangat
“Saya pingin jadi satpam!” jawab Udin.
“Saya pingin jadi Lurah!” seru Atman.
“Saya Bu! Saya bu! Saya pingin jadi pedagang sukses” teriak Rido tak mau ketinggalan.
Seluruh siswa tak mau kalah menyampaikan cita-citanya sehingga menimbulkan keributan. Berbeda dengan Yadi. Dia berdiam diri melihat teman-temannya begitu semangat. Wajah Yadi tertangkap pandangan Bu Ida. Bu Ida menyadari bahwa sedari tadi Yadi hanya diam. Lalu Bu Ida memberi aba-aba diam kepada murid-muridnya. Keadaan sunyi. Bu Ida bertanya kepada Yadi,
“Yadi apa cita-citamu bila sudah dewasa nanti?” Tanya Bu Ida.
“S..sssaya?” gugup.
“Iya, apa cita-citamu Di?”
“Ccita-cita sssaya mmm… ”
“Ayo Yadi. Jangan takut! Ibu yakin kamu punya cita-cita!”
“mmm…” ragu.
“Cepat Yadi!” Pinta Bu Ida tidak sabar.
“mmm..” menunduk takut.
“Baiklah, Ibu tahu kamu ragu akan cita-citamu. Jangan takut bemimpi nak!” Nasihat Bu Ida. “Ibu akan memberikan tugas mengarang tentang impian dan cita-cita kalian diselembar kertas. Tugas dikumpul paling lambat saat bunyi bel istirahat!” kata Bu Ida.
“Iya Bu!” Jawab murid-murid serempak.
Seluruh siswa sibuk dengan karangan mereka masing-masing. Yadi masih bingung apakah ia harus menuliskan cita-citanya atau tidak. Saat itu ia teringat kata-kata Bu Ida “Jangan takut bermimipi”. Seketika dirinya semangat menulis karangan. Ia berharap cita-citanya akan tercapai.
Kriiing..kriiing..kriiing…
Bel istirahat berbunyi. Waktunya tugas mengarang dikumpul. Yadi menulis karangan sampai berlembar-lembar halaman. Ia cukup puas dan yakin atas karangannya tersebut.
Jam pelajaran berlanjut seperti biasanya. Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Sebelum mereka pulang, ketua kelas membagikan nilai tugas mengarang mereka. Yadi bersemangat untuk melihat nilai mengarangnya. Tetapi tak sesuai harapan, Ia mendapat nilai D pada kertas mengarangnya. Dibawahnya terdapat catatan dari Ibu Ida.
Temui Ibu Pulang sekolah di ruang guru
Tak berfikir lama Yadi pergi menemui Bu Ida di ruangannya.
“Permisi Bu, ada perlu apa?” Tanya Yadi sopan.
“Ibu sudah membaca karanganmu, sebenarnya tak buruk” berkata pelan memandang Yadi.
“Lalu, mengapa saya mendapatkan nilai D?” Tanya Yadi penasaran.
“Karena saya tidak yakin kamu bisa meraihnya” Jawab Bu Ida.
“Kenapa tidak? Bukankah kata ibu janganlah takut bermimpi?” Protes Yadi.
“Itu memang benar. Tapi setidaknya kamu melihat keadaanmu sekarang! Kamu hanyalah seorang anak petani yang miskin di kampung ini! Ibu tidak yakin akan impianmu itu! itu mustahil! Mengapa kamu tidak seperti teman-temanmu bercita-cita sewajarnya?! Kamu terlalu berkhayal tinggi! Berkhayal sesuatu yang tidak pernah ada? Tidak takutkah kamu terjatuh dari khayalan tinggimu itu?!” seru Bu Ida kesal.
Yadi terdiam menunduk. Matanya berbinar. Mulutnya terkunci. Tak ada satu pun kata terlontar dari mulutnya.
“Ibu akan memberimu kesempatan terakhir. Perbaiki karanganmu dan nilaimu akan bertambah bagus. Kumpulkan besok pagi di ruangan Ibu” Jelas Bu Ida.
Yadi hanya mengangguk kecil. Ia langsung pamit dan segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah tak biasanya ia tak pergi ke sawah. Ia duduk merenung di teras rumah gubuknya. Merenung apa yang dikatan Bu Ida padanya. Tangan kanannya menggenggam pena. Tangan kirinya memegang kertas karangannya.
“Haruskah aku mengubah impian-impianku hanya untuk nilai semata?” Tanya Yadi dalam hati.
Saat itu, Ayah Yadi datang dari sawah.
“Pak, Kok pulangnya cepat? Ada masalah di sawah?” Tanya Yadi menghampiri ayahnya.
“Nggak ada, Nak. Tadi Juragan minta bapak untuk istirahat di rumah” Jawab Ayah Yadi.
“Bapak sakit?” Tanya Yadi agak panik.
“Nggak, cuma pegel-pegel aja”
“Yadi pijat-pijat ya punggung bapak?”
“Iya, makasih Nak”
Yadi segera memijat punggung ayahnya. Tak sengaja, Ayahnya melihat kertas-kertas disampingnya. Ia tersenyum membaca karangan Yadi. Didalam karangan itu, Yadi ingin menjadi Insinyur ternama di negeri ini. Ia ingin membangun bagunan-bangunan yang megah. Ia ingin membangun perusahaan tersukses di negeri ini. Ia ingin menjadi milyader. Ia ingin memiliki sawah yang luas berhektar-hektar untuk ayahnya. Ia ingin sekolah yang tinggi sampai ke luar negeri. Ia ingin membawa ayahnya naik haji bersamanya. Dan masih bayak lainnya.
“Pak, haruskah Yadi mengubah cita-cita Yadi di dalam karangan itu?”
“Jika ini impianmu, terus lanjutkan Nak. Bapak yakin suatu saat impianmu tercapai. Jangan berputus asa dan berusahalah untuk meraih impianmu” Jelas Ayah Yadi.
“Baik Pak, terimakasih.”
Keesokan harinya…
Yadi sekolah seperti biasanya. Tak lupa ia membawa secarik kertas untuk Bu Ida yang isinya:
“Ibu boleh menyimpan nilai D saya, tetapi biarkan saya menyimpan impian-impian saya”
Setelah peristiwa itu, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun terlewati. Tepatnya 15 tahun kemudian, seorang guru SD bersama murid-muridnya mendatangi open house rumah seorang Milyader termuda dan ternama di pusat kota.
“Permisi, bolehkah saya bertemu dengan Milyader muda pemilik rumah ini?” Tanya guru itu kepada petugas keamanan.
“Silahkan! Ia berada di sana” menunjuk ke arah milyader muda.
“Terimakasih” kata guru itu. Ia segera mendatangi milyader muda itu bersama murid-muridnya. “Permisi” sapa guru itu.
“Iya, I..ibu Ida!” Si Milyader muda terkejut melihat guru itu, ia langsung mencium tangannya.
“Bagaimana anda tahu nama saya?” rasa tak percaya
“Apakah Ibu lupa dengan saya? Saya Yadi salah satu murid SD ibu dulu!”
“Yadi? Benarkah kamu? Seorang Insiyur yang memiliki perusahaan terbesar di Negara ini?
“Benar, Bu!”
“Seorang milyader termuda?”
“Iya, Bu!”
“Yadi.. Selamat Nak atas kesuksesan kamu! Maafkan ibu yang telah mencoba menghancurkan impian-impian Yadi kecil!” Menjabat erat tangan Yadi sambil menetaskan air mata.
“Iya Bu, justru saya berterima kasih kepada ibu karena telah menyadarkan saya atas sebuah impian” berkata penuh haru. “Tahu kah Bu? Saya selalu ingat Ibu melalui nilai D yang ibu berikan kepada saya. Kertas Karangan dan nilai itu saya abadikan dalam bingkai yang dapat selalu saya ingat” Jelas Yadi tersenyum.
The End